Pembakar Jagung di Pinggir Laut

Duduk d pinggir laut sambil menyaksikan kegigihan pembakar jagung, pengupas kelapa, penyedia minuman untuk para pembeli

 

            6 Januari, pagi-pagi handphone ku berbunyi, ternyata dari keponakan bapak ku yang ku panggil bang rizal menelepon, dia mengajak ku jalan-jalan ke Ulele sore nanti sambil makan-makan jagung di pinggiran Ulele. Ini pun sebenarnya percakapan pertama kami melalui handphone dan sebelumnya pun aku tidak pernah berkomunikasi dengannya apalagi jumpa juga belum pernah. Namun, karena aku memang disuruh mamak ku untuk sekali-sekali datang ke rumah bang Rizal karena saudara, yasudah nanti sore aku bakalan ke rumahnya.

             Habis ashar pun aku langsung ke rumahnya. Aku menelepon bang Rizal untuk memberitahu kalau aku sudah di depan rumah/kursusnya. Aku langsung disambut dengan kekagetannya karena melihat rambutku yang sangat gondrong. Begitu ditanyanya kenapa rambutku gondrong gini, ku bilang aja “anak kuliah bang”. Kemudian aku dipersilahkan masuk dan duduk di ruangan depan atau tempat Tata Usaha Kursusnya.

             Aku langsung ditawarkan durian oleh bang Rizal, ku lihat pun kebetulan sekali di banda ini lagi musim durian dan di depan rumah dia pun penjual durian berjejer panjang berjualan. Aku tak bisa menolak pemberiannya, dan aku pun langsung diberikan durian yang tidak tanggung-tanggung besarnya, sangat besar lah pokoknya. Dia menyuruhku untuk menghabiskannya sendiri. Aku pun merasa tertantang, dan segera melahap durian itu sendiri. Namun apalah daya, aku hanya bisa menghabiskan separuh durian saja. Sisanya disuruhnya bawa pulang saja.

             Kira-kira jam lima gitu kami mulai jalan menuju Ulele. Sepuluh menit perjalanan, kami mencari tempat makan jagung yang enak, kami pun berhenti di tempat jagung saudara bang Rizal.

             Bangku pun sudah disediakan untuk kami, aku ditawari memesan apa, aku memilih jagung bakar dengan minuman softdrink Fruit Tea. Aku melihat bapak penjual jagung itu bekerja dengan sungguh-sungguh dan memang sangat terampil. Dia hanya dibantu oleh anak nya yang kira-kira masih berumur 8 tahun. Aku memang salut melihat bagaimana bapak itu bekerja dan bagaimana dia mendidik anaknya untuk bekerja keras dari kecil.

             Selagi aku menunggu jagung yang dibakar, aku duduk dengan kepala ku menengadah ke atas menyaksikan cuaca yang bersahabat dengan yang agak mendung yang memang pas sekali untuk sore ini sambil makan jagung dan juga di depan ku pun terlihat pulau Sabang yang terlihat jelas karena letaknya yang lumayan dekat. Semakin menjelang senja, malah semakin banyak pengunjung di Ulele ini. Para penjual pun semakin sibuk melayani pesanan mereka, memberikan kursi lebih kepada pembeli. Begitu juga dengan bapak penjual jagung ini. Walaupun kelihatannya tempat jualan dia sudah kehabisan kursi, namun dia tetap menyuruh pendatang untuk dipersilahkan duduk, dia mencari kursi dimanapun asalkan mereka bisa duduk. Selagi bapak itu mencari kursi untuk pembeli, anaknya menggantikan dia sementara membakar jagung, dan kadang juga sebaliknya jika bapaknya membakar jagung, anaknya yang bertugas menyediakan kursi dan juga minuman untuk pembeli. Namun, aku agak sedikit bersedih melihat mereka membakar jagungnya. Asap dari arangnya terlalu banyak, tak mungkin bisa dielakkan oleh mata. Aku saja terkena sedikit asap itu, mata ku langsung berair. Namun berbeda dengan bapak itu, asap itu memang sudah menjadi teman akrab baginya. 

             Semakin banyak pembeli, maka akan semakin banyak jagung yang bakalan dipesan. Ku lihat pun jagung yang sudah dikupas sudah habis, maka jagung yang masih berkulit harus segera dikupas. Pertama ku lihat anak itu mengupas jagung, kulihat sepertinya enak mengupas jagung itu. Lalu disusul bang Rizal yang ikut membantu anak itu, malah bang Rizal menyuruh anak itu untuk menanyai minum dengan pembeli saja. Dua jagung sudah dikupas bang Rizal, aku pun semakin tertarik untuk ikut andil dalam hal itu. Aku pun menyingsihkan lengan bajuku, dan segera mengambil jagung yang masih berkulit di dalam karung. Dan ternyata tak seperti yang ku bayangkan, memang agak keras mengupas jagung ini. Cuman, kalau dikerjakan di saat saat seperti ini memang terasa nikmatnya. Aku memang sangat senang sore ini.

             Enam jagung pun berhasil ku kupas, total sudah lima belas, namun kata bapak pembakar jagung itu, segitu sudah cukup. Sambil membakar jagung, kami pun bercerita-cerita dengan bapak itu. Aku banyak bertanya. Aku bertanya tentang penghasilan dia, berapa jagung yang dia habiskan dalam satu hari dan sebagainya. Ternyata dengan jawabannya aku sangat terkagum. Dalam satu hari jagung yang dia bawa sejumlah 150 buah, dan jagun itu pun habis dalam satu hari. Lalu, satu jagung dia jual Rp. 5000, satu jagung dia mendapatkan keuntungan Rp. 3000, satu minuman dia ambil keuntungan Rp. 2000. Ku bayangkan saja satu hari berapa dia dapat keuntungan. Sangat berbeda dengan orang kantoran yang setiap hari bekerja di di dalam ruangan, di atas meja, banyak menghadapi dokumen-dokumen, pakaian harus rapi, gaji?

             Sudah jam setengah tujuh, adzan pun sebentar lagi akan berkumandang. Kami pun pamit kepada bapak penjual jagung itu dan berterima kasih.

             Hari itu, selama perjalanan pulang aku masih terus terkagum melihat cara kerja bapak penjual jagung itu. Mungkin semua penjual jagung seperti itu juga, semangat dalam melakukan pekerjaan mereka.