Apa yang kita tanam, itu yang akan kita petik.

Impian keluar negeri, keluar dari negeri Indonesia, baik itu jalan-jalan, kuliah, kerja atau apalah, itu pasti dah jadi keinginan semua orang untuk bisa menginjakkan kaki di luar negeri, negeri eropa, amerika ataupun yg lain. Namun banyak jalan ataupun cara yang dilakukan sehingga dapat keluar negeri. Kenapa dibuat judul seperti di atas, karena itu sempat dikeluarkan seorang teman ku, teman satu jurusan ku di geofisika.
Aku termasuk orang yang paling berkeinginan untuk keluar negeri, tepatnya untuk kuliah menyambung S2 disana dengan mengambil jalur beasiswa. Negeri tujuan kuliah ku, australia, tepatnya melbourne, nagoya di jepang, british columbia di kanada, dan di belanda. AKu tidak sedikitpun optimis dengan pencapaian ku yang akan berhasil untuk S2 disana, salah satunya yaitu faktor bahas inggris ku yang masih jauh untuk pencapaian S2 di luar negeri. Musuh utama yaitu Toefl yang harus mencapai 550 untuk dapat kuliah di sana.
Dari satu paragraf di atas, berarti jalanku untuk dapat kuliah di luar negeri yaitu harus mencapai nilai toefl. JIka aku berhasil nanti : “si budi bisa keluar negeri (misalkan nagoya) sambung S2 karena di adapat beasiswa dan toefl dia pun di atas 550. itu contoh dari hasil yang aku tanam dengan apa yang aku petik. Yang ku tanam adalah sebuah ilmu yang aku pelajari mengenai toefl dengan tujuan dapat nilai 550. Kemudian hasil yang aku petik dari pertumbuhan bibit yang aku tanam yaitu aku dapat beasiswa dan bisa nyambung S2 di Nagoya University, Tokyo.
– Nenek aku sudah banyak pengalaman jalan-jalan ke luar negeri seluruh benua dikarenakan kakekku yang memang tergolong orang kaya sehingga duitnya dapat digunakan untuk jalan-jalan ke luar negeri. Kakekku dapat menjadi orang kaya karena usaha dia membangun pabrik karet dari muda dulu dan usaha galon bensin yang tersebar banyak di Sumatera. Hasil dari kerja kerasnya dia dan istrinya dapat jalan-jalan keluar negeri.
– Bapak aku sendiri, sudah pernah pergi ke Jepang. Bapak ku pergi ke Jepang bersama orang kantor nya yaitu LPMP untuk melakukan studi tour ke sekolah yang ada di Jepang, Bapak ku yang terbilang bahasa inggris nya sangat kurang, sudah bisa berangkat ke Jepang karena bapak ku termasuk orang lama di LPMP dan memang berpengalaman di LPMP sehingga bapak ku termasuk dalam anggota LPMP yang dapat berangkat ke Jepang.
– Kawan sekolah ku semasa SMA, Bobi sudah sering ke Singapur dari SMP dengan tujuan jalan-jalan bersama orang tuanya.
– Kawan sekolah ku semasa SMA juga, yaitu SUci semenjak 2 tahun lalu dia sudah melakukan perjalan pulang pergi selama sebulan sekali ke thailand. Dia sudah bekerja untuk berjualan baju dari Thailand yang akan dijual di Indonesia. Karena dia sudah menggeluti bisnis baju luar secara online.
– Kawan ku dari Sabhagiri, Ade dan Rizki. Pertama Ade, dia sudah jalan-jalan ke Malaysia, karena pergi berlibur bersama keluarganya. Kemudian Rizki, dia akhirnya telah berhasil ke Jepang (jepang memang negara impian dia untuk dikunjungi). Dia ke Jepang karena dia mendapat kan tiket ke sana bersama dengan Band nya untuk ikut kontes disana.
– Kawan kuliah ku, Yurda dan Zakia. Mereka akhirnya berhasil mendapatkan jalan untuk menyambung S2 ke Universiti Sains Malaysia. Mereka lolos ke sana melalui jalur LoA. Yaitu mereka mendapat rekomendasi dari dosen yang ada di geofisika untuk masuk ke sana secara otomatis tanpa ada tes, maupun nilai toefl. Mereka masuk begitu saja.
– Ajiz, ilham, andre, rizki, wan, novi, semester 4 kemarin, mereka berkunjung ke USM juga untdakaang mendaftar untuk ikut ke sana.
– Dirketur HAkA tempat aku bekerja, dia sekarang sedang mengambil S3 di Belanda. Direktur aku tersebut memang memiliki kemampuan bahasa inggris yang luar biasa, sudah seperti ngomong bahasa indonesia baginya.
– Rekan kantor di HAkA yaitu Bang Tezar, lima bulan lalu dia baru berangkat ke San Fransisco. Dia telah terpilih untuk ikut serta dalam kegiatan restorasi yang diadakan oleh NGO yang ada di sana, karena partisipasi nya yang cukup memadai dalam hal konservsi selama ini.
– Salah satu bos ku di HAkA, yaitu bang Rudi, dia tahun lalu langsung di undang dalam acara penganugerahan dari Amerika kepada dirinya dalam upaya pelestarian Leuser,Aceh. Undangan ini memang sangat sepadan dengan usaha dia selaa ini dalam melestarikan hutan Aceh terutama Leuser.
– Baru-baru ini, manager GIS di HAkA yang juga supervisor ku, bang Agung baru kembali dari san fransisco. Dia dapat undangan dari Google dan Nasa karena aktivitas dia yang dari dulu sering berhubungan dengan Google dan Nasa. Dia sering mengakses data yang didownload dari Google maupun sering mendonwload citra atau bentuk apapun yang berhubungan dengan NASA. Maka dari itu dia mewakili HAkA untuk ikut serta dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh Google.
– Terakhir, yaitu teman ku di Geofisika, T. Ryan Fachrianta, teman yang paling banyak membantu ku dalam menyelesaikan Tugas AKhir ku, semalam baru saja dia mengupload potonya di facebook yang berlatarkan Allianz Arena, Munich. Waw, dia sudah sampai sana. NAmun sebenarnya dia sedang mengambil kuliah S1 di Zagreb, croatia. Dia mendapatkan kesempatan untuk kuliah di sana, beserta beberapa orang dari Unsyiah. Dia mendapatkan informasi mengenai beasiswa ini dan juga, nilai Toefl nya yang tembus 524. Skor toefl yang tinggi untuk tingkat S1. Dia memang mahasiswa yang tidak terlalu “talk more” di geofisika, tapi dia orang yang “do more” di geofisika. Dengan kemampuannya di bidang geofisika yang tidak diragukan, kemudian bahasa inggris nya yang luar biasa, akhirnya dia dapat berangkat ke Kroasia sana untuk kuliah.
Kisah ryan yang ku ceritakan terakhir karena dia lah kawan yang pernah mengatakan “Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik hasilnya, Allah pasti bakalan nengok usaha yang udah kita buat selama ini, pasti beda dengan orang yang gak pernah mau berusah, yang selalu dibantu oleh orang lain dan tidak mau berbuat”. Itulah yang diucapkannya dulu kepada ku dan Adly, kawan geofisika ku juga.
Jadi, itulah sepenggal kisah orang yang aku kenal yang pernah ke luar negeri dengan cara dan jalan yang berbeda-beda.