Pengkhianatan Nyonya Dita

Hubungan rumah tangga mereka memang sudah kelihatan tidak harmonis dari awal perkawinan mereka. Saat kedua orang tua dari tuan Sanul mengetahui bahwa nyonya Dita akan menjadi istrinya, mereka tidak setuju. Sebab mereka menilai kalau kehidupan nyonya Dita yang tidak jelas. Mereka sebelumnya juga mengetahui kalau wanita itu dulunya suka berganti-ganti pasangan. Namun tuan sanul tetap pada pilihannya, entah dengan maksud apa dia menyukai wanita itu.

Hubungan rumah tangga mereka memang sudah kelihatan tidak harmonis dari awal perkawinan mereka. Saat kedua orang tua dari tuan Sanul mengetahui bahwa nyonya Dita akan menjadi istrinya, mereka tidak setuju. Sebab mereka menilai kalau kehidupan nyonya Dita yang tidak jelas. Mereka sebelumnya juga mengetahui kalau wanita itu dulunya suka berganti-ganti pasangan. Namun tuan sanul tetap pada pilihannya, entah dengan maksud apa dia menyukai wanita itu.

        Saat pesta perkawinan mereka, hanya keluarga dekat saja yang datang. Memang hampir dari semua keluarga tuan sanul tidak menyetujui hubungan mereka. Kemana keluarga nyonya Dita? Tak satupun dari keluarganya yang hadir. Saat awal hubungan mereka, nyonya Dita memang sudah memberitahu tuan Sanul kalau dia memang sudah sebatang kara. Dia merantau ke Indonesia memang seorang diri. Katanya kedua orang tuanya sudah meninggal saat usia Dita msih 19 tahun. Dari kecil Dita dan orang tuanya tinggal di Malaysia, tepatnya di Penang. Ayah Dita yang dulu seorang wartawan tewas saat sedang meliput kekacauan yang ada di Iraq, dan Ibunya meninggal karena sakit kanker payudara. Sejak itu Dita dirawat oleh satu-satunya paman yang dikenalnya, tuan Bama. Dia disekolahkan hanya sampai tamat SMA, kemudian dia memilih untuk bekerja ke Indonesia. Dia belum pernah dapat pekerjaan tetap. Mulai dari Sales Promotion Girl, lalu  pernah juga menjadi penjaga counter handphone, bahkan juga pernah menjadi pengisi bensin.

 Dia bertemu tuan Sanul ketika dia sedang bekerja sebagai seorang kasir di stasiun Bus. Tuan Sanul yang saat itu masih sering keluar kota karena ada pelatihan ke sekolah-sekolah, dia selalu berjumpa dengan nyonya Dita. Dan tidak butuh waktu lama kira-kira lima bulan tuan Sanul mengajak nya menikah. Usia tuan Sanul yang terbilang telat menikah karena usianya yang menginjak 38 tahun dan berbanding jauh dengan nyonya Dita yang berumur 25 tahun membuatnya untuk segera melangsungkan pernikahannya karena tidak mau menunggu usia kepala empat, lalu selalu ada dorongan dari kedua orang tuanya untuk segera menggendong cucu dari tuan Sanul. 

           Setelah pernikahan mereka, nyonya Dita sudah tidak bekerja lagi, dia hanya menjadi ibu rumah tangga. Sedangkan tuan Sanul tetap sebagai seorang Guru. Anehnya, sebagai seorang pasangan, mereka jarang sekali bercakapan di rumah. Saat pagi hari, tuan Sanul selalu bangun lebih dulu dari istrinya. Tuan Sanul sendiri lah yang meyiapkan sarapan untuknya, dia menyeduh teh sendiri dan menggoreng telur untuk sarapanya. Hampir tidak pernah tuan Sanul berpamitan dengan nyonya Dita untuk ke kantor. Saat tuan Sanul pulang siang hari, selalu saja dia tidak melihat istrinya berada di rumah. Nyonya Dita selalu berkeliaran keluar yang tidak pernah pernah diketahui tuan Sanul ke tempat mana dia pergi.

        Sehingga suatu hari, saat pagi hari, nyonya Dita lebih dahulu bangun daripada tuan Sanul. Dilihatnya jam kalau sudah pukul tujuh pagi, dia langsung membangunkan tuan Sanul. Namun beberapa panggilan tidak ada respon dari tuan Sanul, bahkan nyonya Dita sudah memukul-mukul lengannya untuk bangun, tetapi tetap saja tidak bangun. Kecemasan pun mulai timbul pada diri nyonya Dita.

           Orang tua tuan Sanul segera datang ke rumah sakit setelah mendapat panggilan dari nyonya Dita. Dan sangat menyedihkan ketika dokter memberikan kabar kalau tuan Sanul terkena Stroke di usianya yang ke 40.

            Selama tuan Sanul tidak bisa melanjutkan kerja nya lagi, semua kebutuhannya dan nyonya Dita diberikan oleh ayah tuan Sanul dari uang pensiunnya. Sudah hampir dua tahun nyonya Dita selalu merawat tuan Sanul. Mulai dari menyuapinya makan, memandikannya, mengganti popoknya, dan selalu berada di sampignya saat tidur karena tuan Sanul selalu terbangun tengah malam untuk buang air kecil. Suatu hari nyonya Dita sempat menangis saat sedang menyuapi suaminya makan. Nyonya Dita sudah merasa tidak sanggup lagi menghadapi kenyataan ini. Dia sudah sangat lelah untuk mengurusi suamniya seorang diri. Dan akhirnya orang tua tuan Sanul pun menyetujui permintaan perceraian dari nyonya Dita. Walaupun dengan  perasaan benci dengan keputusan nyonya Dita ini yang tidak bertanggung jawab dengan suaminya dan meninggalkannya dalam keadaan seperti ini, Ibu tuan Sanul pun rela. Nyonya Dita pun pergi dengan tanpa jejak setelah berpamitan dengan kedua mertuanya.

        Keadaan tuan Sanul pun semakin buruk karena dia mengetahui keputusan nyonya Dita ini. Mungkin karena merasa telah dikhianati, ini berpengaruh ke keadaan mental tuan Sanul. Ibunya yang saat ini mengurusnya pun merasa aneh dengan keadaan tuan Sanul yang tidak mau makan, tidak mau dimandikan. Kadang dia hanya makan satu kali sehari dengan menu yang sangat sedikit.

         Akhirnya hanya tiga tahun lah Ibunya merawat tuan Sanul karena tiba-tiba badan tuan Sanul panas yang kata dokter demam biasa namun esok harinya bertambah panas dan saat berada di rumah sakit, nyawa tuan Sanul pun tidak dapat tertolong lagi karena trombositnya yang turun drastis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *