Wildlife Corridor

What is Wildlife Corridor ?

Secara umum, “Corridor” atau koridor diartikan sebagai penghubung. Dalam konteks satwa liar, “Wildlife Corridor” yaitu suatu penghubung antar habitat satwa liar yang menghubungkan dua atau lebih area atau habitat dari suatu lanskap (bentang lahan) yang tersusun dari vegetasi alami guna menjaga sistem ekologi.

Latar belakang perlunya dibuat koridor satwa liar yaitu dikarenakan adanya kontruksi bangunan, pembuatan jalan baru, lahan pertanian yang berada di wilayah satwa liar membatasi satwa liar untuk bergerak bebas atau berpindah.

Misalkan seperti satwa Orangutan yang hidupnya berpindah-pindah dengan jarak yang sangat jauh dalam satu harinya dan sangat bergantung pada pepohonan yang juga dijadikan sebagai tempat tidur, tentu saja akan “merusak” skema dari kehidupannya karena adanya penampakan baru berupa jalan, bangunan dan lainnya. Lalu rusa yang hidupnya tidak terpisahkan dengan sumber air atau sungai yang ketika sungai tersebut dijadikan sebagai tempat lalu lalang kendaraan melalui jembatan yang dibangun, serta satwa lainnya.

Goal and Benefit

Pembuatan koridor satwa liar sendiri menjadi suatu hal yang bersifat kritikal yang memiliki tujuan untuk mempertahankan proses ekologi dengan cara memberikan ruang atau pergerakan bebas untuk berbagai satwa.

Pembuatan koridor satwa liar ini dapat menghasilkan populasi yang berkelanjutan melalui proses migrasi, kolonisasi serta kawin silang (interbreeding) antar hewan bahkan tanaman atau vegetasi. Tentu saja pembuatan koridor ini menjadi solusi dalam mengatasi konflik manusia dan satwa liar dengan cara merestorasi kembali nilai-nilai ekologi yang saling menguntungkan tanpa merusak suatu habitat satwa liar dengan cara menempatkan koridor satwa liar dan perekebunan serta pertanian yang sama-sama saling berkelanjutan.

Strategy

Pembuatan koridor satwa liar dilakukan dengan cara menghubungkan area signifikan yang masih memiliki vegetasi tersisa (remnant vegetation) di antara area yang telah atau sedang mengalami proses konversi menjadi perkebunan atau pertanian, terutama khusus untuk vegetasi adat/alami/langka yang sangat penting bagi keberlangusngan tanaman dan hewan yang terancam punah yang sangat bergantung pada vegetasi tersebut. Sehingga, dengan adanya koridor satwa liar ini dapat memberikan secara jelas batas antara area konsesi dengan area berhutan tanpa mengganggu pergerakan satwa liar.

Dengan adanya batas yang jelas berupa koridor akan membantu seluruh ekosistem berkembang meskipun berdekatan atau berdampingan dengan manusia. Revisi peta penggunaan lahan maupun kawasanhutan sangat diperlukan guna menghasilkan informasi yang benar terhadap suatu kondisi tiap lahan. Misalnya, target utama dari pembuatan koridor satwa liar yaitu menghubungkan Hutan Lindung dengan Hutan Lindung lainnya yang terpisah dengan adanya suatu kawasan yang bukan hutan.

Types of Wildlife Corridor

Koridor satwa liar terdiri dari beberapa jenis dan hal ini dapat disesuaikan dengan jenis populasi atau dominasi dari satwa yang ingin dilestarikan. Umumnya, koridor satwa liar dikategorikan berdasarkan skala kecil atau luasan nasional dengan lebar dalam satuan kilometer sampai koridor yang signifikan yang hanya memiliki lebar dalam satuan puluhan meter. Yang terpenting dari koridor yaitu menghubungkan lanskap, habitat, dan ekologi. Berbagai sumber mengemukakan banyaknya jenis koridor, namun penulis mengambil salah satu sumber yang membagi jenis koridor satwa liar menjadi tiga, yaitu continuous corridor, stepping stone corridor comprised of vegetation patches, dan stepping stone corridor comprised of isolated trees and small patches.

sumber: Land for Wildlife Queensland

1.Continuous corridor; diperuntukkan bagi satwa liar yang membutuhkan penghubung yang tidak terputus dan selalu ditutupi oleh vegetasi seperti orangutan, beberapa mamalia, reptil dan sebagainya.

2.Stepping stone corridor comprised of vegetation patches; sesuai untuk satwa liar yang tetap bisa bergerak melalui bentanglahan yang bercampur antara vegetasi atau lahan terbangun, yang bergerak untuk menetap di stepping stone yang bisa terdiri dari semak, taman kecil dengan variasi bunga, yang cocok untuk beberapa jenis burung dan serangga.

3.Stepping stone corridor comprised of isolated trees and small patches; gabungan dari vegetasi alami dan buatan yang menyesuaikan dengan berbagai jenis penggunaan lahan, termasuk untuk satwa seperti kangguru, berbagai jenis burung dan satwa lainnya.

Case

Penyesuaian bentuk, luas atau jenis koridor didasarkan pada habitat populasi satwa yang ada di suatu wilayah sehingga satwa liar dapat bergerak atau berjalan secara menyebrang langsung (go across), melalui atas (go over) ataupun melalui bawah (go under) tanpa mengalami interfensi dari aktivitas manusia. Mulai dari satwa besar sampai ke satwa kecil dapat dibuat koridor guna menjaga kelangsungan mereka. Tampak seperti gambar berikut jenis koridor yang dilalui berbagai satwa seperti gajah yang menyebrang sungai, dan koridor lain yang berada di atas ataupun di bawah terowongan.

Berbagai spesies burung bergantung pada habitat lahan gambut dan pesisir yang dijadikan sebagai tempat migrasi demi kelangsungan hidup.

Bahkan untuk satwa kecil seperti kepiting yang membutuhkan koridor dari hutan ke lautan untuk proses breeding dan bertelur, yang dengan adanya koridor membuat orang dapat menghindari mereka ketika berkendara.

Koridor juga dapat diletakkan di tengah-tengah pemukiman dalam bentuk hutan kota atau taman.

Peran Remote Sensing dalam Mendukung Pembuatan Wildlife Corridor

Peran remote sensing dalam koridor satwa liar ini dapat digunakan saat penentuan area yang layak digunakan sebagai koridor satwa liar dan juga untuk pelestarian selanjutnya. Pembuatan peta zona ekologi dapat memberikan informasi mengenai wilayah yang strategis melalui identifikasi kesesuaian lahan untuk menunjukkan wilayah yang berpotensi untuk dilakukan reforestasi maupun restorasi. Dari citra satelit dapat membedakan dan menilai lahan atau area mana yang memiliki produksi lebih baik untuk dijadikan sebagai perkebunan / pertanian (jika masih ingin dipertahankan) dengan lahan yang sesuai untuk dijadikan koridor.

Tantangan pada remote sensing saat ini yaitu dengan memanfaatkan teknologi remote sensing untuk mendukung dan memudahkan proses reforestasi pada area atau jalur yang telah dipilih sebagai koridor satwa liar. Teknologi drone dapat mengadaptasi teknik konvensional dalam penanaman bibit dengan memanfaatkan kemampuan dari teknologi Seed-firing drones.

Teknologi ini sangat membantu dalam kegiatan reforestasi melalui penanaman bibit di area luas secara cepat dengan menembakkan bibit yang telah diletakkan dalam suatu media tanam untuk dapat menembus permukaan tanah.

Tentunya pemanfaatan teknologi ini sangat membantu tidak hanya dalam pembuatan koridor satwa liar melainkan juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap mitigasi climate change.

Referensi:
Arcgis.com
Environment.gov.au
Fast company
Geographyrealm.com
Internationalforestindustries.com
Land for Wildlife Queensland
NRCS
Treehugger.com
Wildlifeconservationtrust.com
WWF Australia

Featured image: conservationcorridor.com

Leave a Reply