Perkembangan Sistem dan Wahana Penginderaan Jauh di Dunia

Induk dari penginderaan jauh adalah interpretasi hasil dari Foto Udara, dengan menggunakan film analog yang diinterpretasi secara manual.

1999
Penggunaan foto udara dimulai pada tahun 1919 dengan menggunakan wahana pesawat terbang untuk tujuan militer. Tentunya informasi yang dapat diperoleh dari citra yaitu kenampakan hitam putih sesuai dengan keadaan asli di permukaan.

Pasca Periode Perang Dunia-II
Setelah masa perang dunia-II, penggunaan foto udara telah berubah fungsi untuk keperluan sipil dan mulai mengalami perkembangan seperti metode interpretasi visual/manual.

1990-sekarang
Penggunaan teknologi satelit atau penginderaan jauh semakin canggih ketika mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi komputer untuk menghasilkan informasi spasial dari suatu wilayah dan dapat berupa data atau peta.

Teknik interpretasi secara manual baik pada citra dari foto udara ataupun non-fotografik yang dihasilkan dari wahana sampai saat ini masih digunakan dan justru menjadi penghasil citra dengan tingkat akurasi yang tinggi, sebut saja Drone atau UAV (Unmanned Aircraft Vehicle) yang saat ini sangat banyak digunakan untuk survey dan pemetaan.

1972
Data penginderaan jauh mulai dikembangkan melalui satelit yaitu bermula pada tahun 1972 yang diinisiasi oleh Amerika Serikat dengan meluncurkan satelit sumberdaya yang awalnya bernama ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite-1) dengan kemampuan resolusi spasial sekitar 80 meter yang kemudian namanya dikenal dengan Landsat-1 hingga saat ini yang sudah mencapai level Landsat-9.
Landsat inilah yang kemudian sebagai penyedia citra satelit dengan keunggulan di atas foto udara terutama dari segi temporalnya atau periode perulangan perekaman, lalu biaya untuk perolehan data, ketersediaan spektrum panjang gelombang dan pengolahan dari saluran (band) yang dapat dikombinasikan.

1980-an
Setelah meluncurkan satelit pertama Landsat-1, Amerika Serikat melanjutkan pengembangannya dengan menambahkan sensor pendeteksi pancaran permukaan atau termal yang bernama Thematic Mapper dengan resolusi yang lebih tinggi yaitu 30 meter untuk saluran spektral pantulan dan 120 meter untuk saluran pancaran termal.

Perkembangan Pesat Satelit Penginderaan Jauh
Beberapa negara eropa dan amerika juga termasuk sebagian kecil Asia seperti Cina dan India sudah mulai berlomba-lomba untuk menghasilkan satelit sumberdaya sendiri dengan pengembangan dalam hal penerapannya di penginderaan jauh.

Amerika Serikat, meluncurkan satelit sumberdaya di bawah perusahaan-perusahaan swasta dengan berbagai variasi kemampuan resolusinya sampai satu meter, mulai dari satelit IKONOS, OrbView, QuickBird, dan GeoEye.
Perancis, meluncurkan satelit SPOT dengan resolusi kurang dari 10 meter
Rusia, meluncurkan satelit COSMOS dengan resolusi sekitar 10 meter
India, meluncurkan satelit IRS dengan resolusi 10 meter
Jepang, meluncurkan satelit ALOS dengan resolusi 12,5 meter
Jepang dan NASA, bekerjasama dalam menghasilkan satelit ASTER dengan resolusi 15-30 meter
Amerika Serikat, meluncurkan satelit pengembangan dari sebelumnya yaitu Landsat 7 ETM+ dengan resolusi mencapai 30 meter
Jepang, meluncurkan satelit MOS dengan resolusi 50 meter yang kemudian disambung dengan peluncuran satelit MODIS dengan resolusi 250 dan 500 meter yang mana sampai saat ini satelit MODIS banyak digunakan untuk keperluan cuaca
Amerika Serikat, juga meluncurkan satelit cuaca yaitu NOAA-AVHRR dengan resolusi hingga 1,1 km yang sampai sekarang banyak digunakan juga untuk kelautan.
Jepang, menjadi salah satu pelopor sebagai negara yang mengoperasikan sensor aktif atau radar yaitu satelit JERS, lalu
Uni Eropa, dengan satelit ERS dan Envisat
Kanda, dengan satelit Radarsat

Sementara itu, sensor yang terbaru seperti sensor aktif yaitu LIDAR dengan menggunakan teknologi Laser yang sangat berguna untuk mengukur ketinggian objek seperti kanopi pohon dan ketinggian tanahnya.

Lalu, penambahan jumlah spektral hingga mencapai ratusan guna memperoleh informasi spektral dari suatu objek sampai tingkat detail seperti mineral dan spesies juga dikembangkan melalui sensor Hyperspectral yang dipasangdi satelit MODIS, Envisat dan EO-1.

Perkembangan di Indonesia
1970-an
Indonesia di awal penggunaan teknologi penginderaan jauh juga memulai dari penggunaan foto udara dengan tujuan survey dan pemetaan sumberdaya oleh beberapa lembaga.

1980-an
Kemudian penggabungan aplikasi foto udara dengan teknologi komputer sebagai perangkat pengolahan citra digital dari satelit dilakukan Indonesia pada tahun 1980-an dan dapat dikatakan sebagai pengemuka pertama di kawasan Asia Tenggara.

Referensi:
Danoedoro, P. 2012. Pengantar Penginderaan Jauh Digital (pp. 5-8). Yogyakarta: Penerbit ANDI
Featured image: https://en.wikipedia.org/wiki/Earth_Observing_System

Leave a Reply