Interpretasi Citra Satelit

Dalam dunia GIS dan Remote Sensing, hal seperti interpretasi sudah sangat melekat terhadap keduanya. Sumber data dari Remote Sensing, lalu prosesnya di GIS. Hampir semua bidang yang berkaitan dengan Remote Sensing dilakukan kegiatan “Interpretasi”. Contohnya seperti bidang Geologi, data yang diperoleh kita katakan dari Landsat, yang kemudian diinterpretasi mengenai bentanglahan, bentuklahan, jenis tanah, kemiringan lereng dan sebagainya. Lalu pada bidang pertanian atau kehutanan, kedua ini sangat tidak dapat dipisahkan dalam hal GIS misalnya untuk pengklasifikasian penggunaan lahan pertanian, hutan dan non-hutan, tutupan lahan. Kemudian pada bidang atmosfer, juga sering dilakukan interpretasi, seperti interpretasi sebaran awan, sebaran abu vulkanik dan lain-lain.

Meskipun tetap harus dilakukan tahap-tahap awal seperti akuisisi data, koreksi citra dan apapun itu, interpretasi tetap perlu dilakukan karena berpengaruh terhadap keakuratan.

Umumnya, interpretasi citra terbagi 2, yaitu interpretasi visual dan interpretasi digital. Meskipun terdapat satu lagi yaitu Hybrid yang merupakan gabungan antara interpretasi visual dan digital.

Untuk interpretasi digital, zaman sekarang ini hampir semua pemakai GIS menggunakan interpretasi digital untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Mungkin dikarenakan ruang lingkup pekerjaan yang banyak. Meskipun interpretasi digital lebih condong kepada penggunaan mesin/komputer, namun tetap harus dibekali kemampuan dasar dalam Remote Sensing.

Contoh Interpretasi Digital tentang Penggunaan Lahan di Kota

Interpretasi digital disini, yang berperan yaitu Remote Sensing, bukan GIS. Kita harus dibekali skill dan kemampuan teknis untuk mengolah data citra mentah untuk didapatkan informasi seperti yang kita inginkan seperti klasifikasi multispektral untuk kerapatan vegetasi. Kelebihan yang dimiliki interpretasi digital ini yaitu, dapat menghitung sesuatu yang tidak terlihat dengan mata kita atau tidak dapat dilihat secara visual di lapangan. Contoh yang paling sering yaitu Klasifikasi Suhu Permukaan Tanah (Land Surface Temperature) dan juga Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature). Sesuatu ini hanya dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari namun kita tidak dapat mengetahui nilainya langsung kecuali melalui bantuan alat. Kembali ke tujuan Penginderaan Jauh yang mengidentifikasi objek tanpa menyentuh langsung objek tersebut, maka hal ini perlu dilakukan. Lain halnya untuk melakukan validasi data penginderaan jauh dengan lapangan, diperlukan pengambilan sampel di lapangan dengan bantuan alat.

Bercerita tentang INTERPRETASI VISUAL….

Berbeda antara skill teknis dan kemampuan spasial. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, interpretasi digital lebih mengedepankan kemampuan mesin/komputer tanpa mengetahui proses yang di dalamnya.  Interpretasi visual sangat mengandalkan ketajaman visual mata.

Pada teknik interpretasi visual, mempergunakan 8 unsur interpretasi ; 1) rona/warna, 2) bentuk, 3) ukuran, 4) tekstur, 5) pola, 6) bayangan 7) asosiasi 8) situs. Unsur dari nomor 1 sampai 6 merupakan dasar untuk menyelesaikan ke tahap 7 sampai akhir. Sebab hal ini sangat dipengaruhi oleh :

  • Kualitas citra (resolusi spektral, spasial)
  • Penajaman citra yang diterapkan
  • Basic knowledge interpreter
  • Local knowledge interpreter
  • Pengalaman interpretasi (jam terbang)

Contoh Interpretasi Visual tentang Ruang Terbuka Hijau di Kota

Terlihat jelas perbedaan yang ada pada kedua interpretasi. Interpretasi digital dapat mendeteksi dan membedakan sampai objek yang kecil, tidak pada interpretasi visual yang hanya dapat mendeteksi objek yang terbatas pada penglihatan mata. Untuk keakuratan, ini tergantung pada user, dan orang yang menginterpretasi.

……………lanjut ke halaman “Local and Basic Knowledge dalam Interpretasi Citra”

 

sumber Featured Image : http://academic.emporia.edu/aberjame/remote/landsat/landsat_interp.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *