The Butterfly Effect

Percayakah Anda bahwa kejadian di masa datang ditentukan oleh serangkaian kejadian di masa lalu? Cobalah untuk merenungkan beberapa pertanyaan berikut ini sejenak.
Bagaimana awalnya Anda bekerja di tempat kerja Anda sekarang?

Mungkinkah Anda akan bekerja di tempat Anda sekarang seandainya Anda tidak bertemu dengan seseorang sebelumnya atau Anda tidak mengalami suatu kejadian tertentu?

Seandainya Anda bekerja di tempat kerja Anda sekarang karena latar belakang pendidikan Anda, latar belakang apakah yang membuat Anda memilih untuk mengikuti pendidikan di sana? Apakah karena Anda terinspirasi oleh seseorang ataukah mungkin karena Anda mengalami suatu kejadian tertentu?
Seandainya jawaban Anda untuk pertanyaan nomor 2 dan 3 adalah karena Anda bertemu dengan seseorang, kejadian apakah yang menyebabkan Anda bertemu dengan orang tersebut?

Seandainya kejadian pada nomor 2, 3, dan 4 di atas tidak pernah Anda alami, apakah Anda akan bekerja di tempat kerja Anda sekarang?

Luar biasa bukan? Seluruh kejadian dalam hidup kita seolah terjadi secara acak atau random namun pada akhirnya bisa membentuk keadaan kita seperti saat ini. Mungkin suatu ajakan dari teman Anda mengakibatkan Anda bertemu dengan calon kekasih Anda. Mungkin sebuah SMS yang Anda kirim menyebabkan Anda rujuk kembali dengan pacar Anda dan akhirnya mendorong Anda untuk menikahinya dan dari pernikahan itu lahirlah anak-anak Anda. Mungkin sebuah lamaran yang Anda kirimkan menyebabkan Anda diterima di sebuah perusahaan dan sekarang Anda menjadi direktur di perusahaan tersebut.

Sesungguhnya, seluruh kejadian di alam semesta merupakan rangkaian kejadian random. Kira-kira begitulah hasil penelitian yang dilakukan oleh Edward Norton Lorenz pada tahun 1961. Dengan menggunakan bantuan simulasi komputer, Lorenz berusaha memprediksi keadaan cuaca. Lorenz membulatkan angka yang diperolehnya ke dalam bilangan desimal 0.506. Namun ketika dia memasukan bilangan desimal yang lebih lengkap yakni 0.506127, Lorenz mendapatkan hasil yang benar-benar berbeda. Yang kemudian mengejutkan Lorenz adalah nilai desimal terkecil yang ia masukan ke dalam simulasi tersebut dalam prakteknya setara dengan sebuah kepakan sayap kupu-kupu. Tetapi, simulasi tersebut menunjukkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu sekalipun bisa mengakibatkan atau mencegah terjadinya sebuah badai tornado. Sungguh mengagumkan bukan? Hanya sebuah kepakan kupu-kupu bisa menimbulkan atau mencegah terjadinya badai tornado.

Butterfly

sumber gambar : www.7tint.com

Hasil temuan Lorenz tersebut selanjutnya kemudian diberi nama the butterfly effect atau efek kupu-kupu. Karena perhitungan yang digunakan Lorenz didasari kejadian-kejadian yang sifatnya acak maka banyak ahli yang mencoba mengartikan fenomena efek kupu-kupu tersebut ke dalam kehidupan manusia. Begitu banyak peristiwa yang bisa terjadi terhadap seseorang dan kemungkinan-kemungkinan peristiwa tersebut bisa membukakan pintu bagi peristiwa-peristiwa lainnya. Semua kombinasi peristiwa yang mungkin dialami oleh seseorang pada dasarnya merupakan fenomena yang bersifat acak namun saling terhubung antara yang satu dengan yang lainnya. Satu peristiwa yang terjadi bisa membuka atau menutup peluang terhadap terjadinya peristiwa lain yang lebih besar. Karena kemungkinan-kemungkinan yang dialami oleh seseorang juga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kemungkinan-kemungkinan yang dialami oleh orang lain maka seluruh manusia di dunia ini seolah-olah berada dalam suatu ruangan tanpa batas dengan kombinasi kemungkinan yang tak terhingga jumlahnya.

Lalu bila semuanya terjadi secara random, dan kejadian-kejadian random tersebut bisa menentukan masa depan kita, apa gunanya kita berusaha? Bukankah tidak ada kendali yang bisa kita lakukan terhadap semua yang menimpa kita? Di sinilah lesson learned-nya buat kita. Pada tulisan kali ini, saya akan membagikan tiga hal yang bisa membantu kita menghadapi efek kupu-kupu tersebut. Yang pertama, temukanlah makna terhadap apa yang  terjadi. Seringkali sesuatu yang terjadi terhadap diri kita memiliki makna lebih dari sekedar makna yang terlihat oleh mata kita. Kejadian yang dialami oleh Frank Slazak mungkin bisa membantu pemahaman kita dalam hal ini. Frank Slazak adalah seorang guru sebelum akhirnya ia terpilih untuk mengikuti seleksi astronot yang diselenggarakan oleh NASA.

Setelah bersaing dengan 43 ribu kandidat lainnya serta mengikuti serangkaian tes yang berat, Frank akhirnya menjadi salah satu dari 100 orang finalis dalam proses seleksi tersebut. Namun akhirnya Frank begitu kecewa karena ternyata ia gagal menjadi astronot. Pada tanggal 28 Januari 1986, Frank duduk bersama rekan-rekan lainnya yang gagal untuk menyaksikan peluncuran pesawat luar angkasa tersebut. Di tengah kesedihannya itu, Frank masih berharap bahwa ia bisa menjadi salah satu astronot di pesawat itu. Dan tujuh puluh tiga detik kemudian ia mendapatkan jawabannya. Ya, pesawat Challenger itu meledak dan semua penumpangnya tewas seketika. Frank pun menemukan makna yang sesungguhnya dari semua yang ia alami yaitu agar ia lebih menghargai hidupnya. Seringkali kita mengalami kesulitan karena kita salah memaknai apa yang sedang terjadi. Hal yang kita anggap buruk bisa saja terjadi untuk menghindarkan kita dari bencana yang lebih besar dan hal yang kita anggap baik bisa saja terjadi karena kita sedang menghadapi badai yang lebih dahsyat.

Yang kedua, buatlah keputusan dan lakukanlah tindakan yang tepat. Bila kita sudah bisa lebih baik dalam memaknai hidup kita, maka kita akan lebih mudah membuat prioritas dalam keputusan dan tindakan. Kita tidak akan terpatahkan oleh badai yang sepertinya besar karena di balik itu kita melihat ada cuaca yang cerah dan pelangi yang indah. Sebaliknya air yang tenang tidak akan membuat kita terlena karena kita tahu badai sesungguhnya akan datang. Salah seorang pimpinan sebuah perusahaan suatu ketika berkisah bahwa dia memilih pulang ke rumah naik bis karena menurutnya lebih praktis dan cepat dibandingkan naik mobil sedan mewah dengan didampingi sopir yang disediakan kantornya. Namun eksekutif tersebut juga memiliki alasan lain. Dia menyadari betul bahwa suatu saat fasilitas itu akan tidak bisa dia nikmati lagi dan pada saat itu, dia tidak akan mengalami masalah psikologis bila harus bepergian dengan kendaraan umum.

Satu keputusan kecil yang Anda buat, bisa menentukan apakah Anda berada dalam kesulitan atau kemudahan di tahun-tahun mendatang. Keputusan Anda untuk berhenti merokok mungkin akan membuat Anda terhindar dari serangan jantung sepuluh tahun mendatang sebaliknya keputusan Anda untuk mengikuti suatu asuransi mungkin akan menyelematkan keuangan Anda dua puluh tahun mendatang.

Yang ketiga, tataplah masa depan. Betul bahwa menurut teori efek kupu-kupu, apa yang kita lalui dulu bisa menentukan apa yang akan kita lalui nanti. Tapi hal itu tidak berarti kita berhenti berusaha dan mengeluhkan masa lalu kita yang kelam karena hal itu tidak akan mengubah keadaan. Dan ingat, kita bisa mengubah kesalahan yang telah kita lakukan di masa lalu agar tidak berdampak kepada masa depan dengan cara memperbaiki masa kini. Jadi bila suatu ketika Anda telah salah melangkah, berhentilah menatap masa lalu dan palingkalah mata Anda untuk menatap masa depan.

Sebagai manusia, memang tidak banyak yang bisa kita lakukan bila kita hanya seorang diri. Yang bisa dilakukan seorang manusia hanyalah sebuah kepakan saya kupu-kupu. Namun demikian, sebuah kepakan sayap kupu-kupu tetap memberikan peluang bagi terciptanya peristiwa-peristiwa penting dalam hidup kita. Tentukanlah kepakan sayap kupu-kupu Anda dan berharaplah tornado keberuntungan akan menghampiri Anda.

 

Referensi :
Jemy V. Confido
http://lionmag.net/web/2016/06/28/the-butterfly-effect

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *