Aerial Mapping Team ?

IMG_9072
Aerial Mapping Team

Aerial : Foto Udara, Mapping : Pemetaan, Team : Tim

Jadi Aerial Mapping Team adalah tim pemetaan menggunakan foto udara. Jika mendengar kata “Foto Udara” sudah pasti ini berkaitan dengan menggunakan perangkat Drone. Seperti pada post sebelumnya mengenai Wahana Tanpa Awak Drone https://wordpress.com/post/mbdharma.wordpress.com/712 , pada post ini lebih menjelaskan tentang personel-personel yang bekerja pada foto udara ini, yang mana untuk keberhasilan suatu pekerjaan atau proyek-proyek besar seperti pemetaan diperlukan sebuah tim yang solid dan juga memiliki perkerjaan masing-masing yang sudah jelas pada pengoperasian drone ini.

Untuk tim inti pada pengoperasian Drone ini, terdiri hanya 3 orang, yaitu Sang Pilot, Mekanik/Teknisi, dan seorang GCS (Ground Control System).

DSCN2753
Sang Pilot yang sedang bersiap Take off

Sang Pliot pada drone sama dengan pilot di semua pesawat terbang. Dia lah yang menerbangkan drone ini, mulai dari take off hingga landing. Skill disini sangat diperlukan dari jam terbang si pilot. Jika pilot telah sering menerbangkan drone, maka dia akan menguasai segala kondisi saat take off. Pilot harus bisa membaca arah angin pada saat take off dan landing, kemudian jangan mudah panik saat drone sudah mulai mencapai ketinggian untuk di-autopilotkan. Autopilot sendiri yaitu ketika drone sudah masuk ke jalur penebangan yang sudah ditentukan sebelumnya, lalu pilot tinggal mengubah mode manual menjadi Autopilot.

DSC_7800
Mekanik yang sedang Menyetel Perangkat Drone

Kemudian Sang Mekanik/Teknisi. Disini mekanik dituntut harus mengerti segala perangkat-perangkat elektronik yang ada pada drone. Kemudian dibutuhkan kecepatan dan kelihaian dalam merakit perangkat drone sehingga menjadi drone yang dapat diterbangkan. Mekanik harus teliti dalam merakit perangkat drone tersebut mulai dari perangkat kecil seperti kabel-kabel penyambung, Autopilot Modul, ESC, Receiver dan sebagainya sampai dengan perangkat besar seperti baterai maupun kamera. Sang mekanik harus sudah bisa menguasai semua perangkat, perangkat mana saja yang harus disambungkan ke perangkat lain. Baterai untuk drone harus benar-benar dipastikan penuh. Jangan sampai saat drone sudah di atas, drone mangalami kerusakan perangkat. Penyetelan kamera juga harus benar-benar detail, apakah kamera sudah diaktifkan mode pengambilan otomatisnya, dan juga baterainya harus dipastikan terisi. Maka dari itu segala perangkat harus benar-benar dipastikan merekat satu sama lain, misalnya kabel penghubung baterai dengan propeiler (baling-baling), setelah disambungkan harus diperban dengan salasiban ataupun yang sejenisnya agar saat di atas, kabel tersebut tidak terlepas. Dan saat hendak take-off, otomatis sang mekanik lah yang arus memegang dan melempar drone ke udara dikarenakan semua profesi sudah pada bidangnya masing-masing.

IMG_9035
GCS yang sedang Mengontrol Pergerakan Drone

Kemudian profesi ketiga yaitu sang GCS. GCS bekerja sebelum penerbangan, saat penerbangan dan sesudah penerbangan. Sebelum penerbangan sang GCS-lah yang mengolah data-data untuk penerbangan, misalnya pembuatan lokasi penerbangan, pembuatan jalur penerbangan, dan mengatur koneksi dari drone ke laptop yang akan digunakan GCS untuk misi penerbangan drone. Saat penerbangan si GCS bertugas mengawasi penerbangan drone yang sudah tidak mungkin dapat kita lihat dengan mata telanjang, dari laptop lah GCS dapat memantau pergerakan drone, mulai dari kecepatan angin, kondisi baterai, ketinggian dan sebagainya. Sat take off pilot mendengar intruksi dari sang GCS. Maksudnya, si GCS disini mengintruksikan kepada pilot tentang ketinggian yang sudah dicapai drone agar si pilot dapat mengubah dari manual menjadi autopilot. Sebab autopilot sendiri baru dapat digunakan setelah mencapai ketinggian yang sudah disepakati oleh GCS berapa meter dari permukaan baru boleh di-autopilotkan. Yang penting GCS tau kondisi drone dalam keadaan stabil dan tidak melenceng dari jalur penerbangan yang sudah ditentukan sebelumnya. Sekali-sekali drone akan dapat terlihat oleh mata kita mungkin saat di jalur penerbangan yang dekat dengan base. Sama seperti take off tadi, pilot lagi-lagi mendengar arahan dari GCS tentang ketinggian, di ketinggia berapa pilot kembali mengubah dari autopilot menjadi manual agar pesawat dapat didaratkan. Pastikan data-data dari drone dan kamera harus langsung dipindahkan ke laptop agar menghindari kehilangan data yang mungkin dapat terjadi.

Sesudah misi penerbangan, masuk ke urusan pengolahan data. Data-data penerbangan dan poto harus di-geotagging, maksudnya koordinat dari GPS drone dengan hasil poto harus disesuaikan agar masing-masing poto dapat membentuk sebuah peta yang memiliki parameter koordinat dan juga DEM (Digital Elevation Model).

Selesailah sebuah misi.

DSC_7815

 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *