Jakarta Tenggelam?

Di zaman sekarang ini, tepatnya zaman global warming, zaman dimana musim-musim aneh bertumpuk, cuaca-cuaca gak jelas dating, banyak isu-isu yang mulai berkembang di Indonesia, lebih tepatnya di Pulau Jawa yang ada ibukota Indonesia yaitu Jakarta. Pada saat Jakarta sedang heboh-hebohnya kedatangan musibah banjir yang secara terus-terusan membuat keadaan masyarat disana kalang kabut sehingga kemarin sempat ada berita heboh yang menyatakan bahwa ibukota Indonesia akan dipindahkan ke pulau Kalimantan, tepatnya di Samarinda. Hal ini disebabkan karena tempat tinggal Jakarta yaitu pulau Jawa dalam waktu dekat akan tenggelam. Tenggelam? Kalimat ini muncul mungkin karena kondisi pulau Jawa yang sudah keseringan “basah”. Orang-orang di Indonesia menganggap kalau tenggelamnya Jakarta ini disebabkan lepasnya bawah pulau Jakarta sehingga pulau Jawa tenggelam ke bawah permukaan laut.

Sebenarnya bisa saja Jakarta dibilang tenggelam, namun bukan seperti itu prosesnya. Seluruh permukaan di Jawa saat ini sudah hampir dipenuhi dengan bangunan-bangunan beton raksasa, yaitu gedung-gedung tinggi yang sudah tersebar dimana-mana, sudah hampir setengah menutupi permukaan Jakarta. Kemudian pulau Jawa itu sendiri dijadikan sebagai alas dari gedung-gedung pencakar langit tersebut. Bagaimanapun juga, kekuatan tanah memiliki batas maksimum beban. Kita hitung saja dari tahun berapa gedung-gedung di Jakarta mulai berkembang sampai saat ini. Jadi, bisa dikatakan beban pulau Jawa sudah melebih batas maksimum.

Kemudian, yang terpenting lagi, pulau-pulau di bumi ini diasumsikan sebagai sebuah “Spons”. Lalu “spons” tadi kita isi air. Dari reaksi si spons tadi pasti tidak ada apa-apa, kondisi spons sebelum diisi dengan sesudah diisi tetap sama. Lalu kita letakkan spons tadi dengan posisi horizontal. Lalu coba kita tekan spons tersebut dari arah atas dan terus kita tahan, apa yang akan terjadi? Spons tersebut akan mengeluarkan air yang sudah diisi tadi dan air akan tertampung di atas spons. Jadi kalian sudah bisa membayangkan spons tersebut berupa pulau Jawa, lalu jari yang untuk menekan tadi diasumsikan berupa gedung-gedung, dan air yang keluar itulah yang menyebabkan banjir.

Ketika masa tanah kehilangan sebagian besar tahanan geser akibat beban dinamik/siklik sehingga mengalir seperti cairan maka tegangan geser yang bekerja di masa tanah tersebut sama rendahnya dengan tahanan geser yang berkurang.

Untung saja tanah di pulau Jawa termasuk dalam golongan tanah yang keras, berbeda dengan di tanah di Aceh yang terdiri dari tanah dominan tidak keras. Maka dari itu Pulau Jawa bisa bertahan selama ini.

Banda Aceh, 27 Juni 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *